Foto: Mikhail Nilov / Pexels
Tencent dilaporkan telah menghentikan pengembangan Last Sentinel, sebuah game open-world bergaya cyberpunk yang sebelumnya digadang-gadang bakal menantang dominasi Grand Theft Auto. Keputusan ini berimbas pada ratusan karyawan yang terlibat dalam proyek ambisius tersebut.
Last Sentinel dikembangkan oleh Lightspeed LA, studio game yang dipimpin oleh Steve Martin, seorang veteran industri yang sebelumnya bekerja di Rockstar Games. Studio ini dibentuk pada tahun 2020 dengan tujuan menciptakan game AAA yang berkualitas tinggi. Pembatalan proyek ini mengejutkan banyak pihak, mengingat potensi besar yang dimiliki Last Sentinel sebagai pesaing serius di genre open-world.

Pembatalan Proyek dan Dampak PHK
Penghentian Last Sentinel bukan hanya sekadar pembatalan sebuah game. Ini juga berarti pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi banyak karyawan Lightspeed LA. Jumlah pasti karyawan yang terdampak belum diumumkan secara rinci, namun diperkirakan mencapai ratusan orang. PHK ini menambah daftar panjang gelombang PHK di industri game yang telah terjadi sepanjang tahun ini.
Keputusan Tencent untuk membatalkan proyek ini mengindikasikan adanya pergeseran strategi atau mungkin evaluasi ulang terhadap investasi besar di sektor game AAA. Industri game, khususnya segmen pengembangan game berskala besar, memang dikenal memiliki risiko tinggi dengan biaya produksi yang membengkak dan persaingan yang ketat. Game Atari, yang pernah bangkrut, berhasil bangkit berkat game lawas, menunjukkan bahwa strategi game tidak selalu harus berfokus pada AAA baru.
Masa Depan Industri Game AAA
Pembatalan Last Sentinel oleh Tencent ini menjadi contoh terbaru dari tantangan yang dihadapi studio-studio game dalam menciptakan judul besar. Dengan ekspektasi pemain yang terus meningkat dan biaya pengembangan yang terus meroket, tidak semua proyek ambisius dapat bertahan hingga perilisan.
Kejadian ini juga menjadi pengingat bagi para pengembang dan investor bahwa pasar game AAA sangat dinamis. Meski memiliki potensi keuntungan besar, risiko kegagalan juga tidak kalah tinggi. Studio-studio perlu beradaptasi dan mungkin mencari model pengembangan yang lebih berkelanjutan. Kasus PlayStation yang tetap menghapus game fisik meski fans ancam mogok juga menunjukkan bagaimana keputusan bisnis besar bisa diambil di tengah tekanan.