Awalnya anti, kini guru di Tapanuli ini malah pakai AI buat ngajar

Awalnya anti, kini guru di Tapanuli ini malah pakai AI buat ngajar

Seorang guru fisika di Tapanuli menunjukkan bagaimana pandangan terhadap AI bisa berubah drastis. Awalnya, ia mengaku enggan mempelajari AI karena menganggapnya hanya akan jadi alat mencontek bagi siswa. Namun, kini ia justru mengintegrasikan AI dalam proses belajar mengajar di kelasnya.

Perubahan pandangan ini dimulai dari rasa penasaran yang mendorongnya untuk mencoba berbagai alat AI. Ia menemukan bahwa AI memiliki potensi lebih dari sekadar membantu siswa mengerjakan tugas. Teknologi ini mampu menghadirkan metode pengajaran yang lebih interaktif dan menarik.

Dari Skeptis Jadi Praktisi

Guru tersebut, yang bernama Rahmat, menjelaskan bahwa skeptisisme awalnya muncul dari kekhawatiran akan penyalahgunaan AI. Banyak guru lain juga merasakan hal serupa, takut jika AI akan merusak integritas akademik. Namun, setelah mencoba sendiri, Rahmat menyadari bahwa pandangan tersebut terlalu sempit.

Rahmat mulai bereksperimen dengan AI untuk membuat materi pelajaran yang lebih dinamis. Misalnya, ia menggunakan AI untuk membuat kuis interaktif, menghasilkan soal-soal latihan dengan tingkat kesulitan bervariasi, hingga menyusun ringkasan materi yang mudah dicerna siswa. Ini membantu siswa memahami konsep fisika yang kompleks dengan cara yang lebih menyenangkan.

Awalnya saya berpikir AI itu cuma bikin anak-anak makin malas dan nyontek. Tapi setelah coba, ternyata banyak sekali fitur yang bisa dipakai untuk bantu guru mengajar, bukan cuma siswa.— Rahmat, Guru Fisika di Tapanuli

Penggunaan AI juga membantu Rahmat dalam mengelola waktu. Dengan otomatisasi beberapa tugas administratif seperti penyusunan soal atau materi, ia memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi langsung dengan siswa, memberikan bimbingan personal, dan mengembangkan strategi pengajaran yang lebih mendalam.

Ilustrasi seorang guru sedang menggunakan aplikasi AI di tablet untuk membantu mengajar di kelas
Foto: Matheus Bertelli / Pexels

Dampak Positif di Kelas

Integrasi AI dalam pengajaran Rahmat tidak hanya mengubah cara ia mengajar, tetapi juga cara siswa belajar. Siswa menjadi lebih antusias dan terlibat dalam pelajaran karena adanya variasi metode dan alat bantu yang disediakan AI. Lingkungan belajar menjadi lebih adaptif, memungkinkan siswa dengan gaya belajar berbeda untuk tetap nyaman.

Rahmat juga menekankan pentingnya peran guru dalam membimbing siswa menggunakan AI secara etis dan bertanggung jawab. Ia mengajarkan siswa bagaimana memanfaatkan AI sebagai alat bantu belajar yang produktif, bukan sekadar jalan pintas. Ini termasuk mengajarkan cara memverifikasi informasi yang dihasilkan AI dan mengembangkan pemikiran kritis.

Kisah Rahmat ini menjadi contoh nyata bagaimana adopsi teknologi, terutama kecerdasan buatan, di bidang pendidikan bisa membawa perubahan positif. Dengan pendekatan yang tepat, AI dapat menjadi mitra yang kuat bagi guru dan siswa, bukan sekadar ancaman.

SeputarTech

Redaksi independen yang merangkum & mengurasi berita teknologi dari berbagai sumber terpercaya untuk pembaca Indonesia.