<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
    <channel>
        <title>Kepercayaan on Seputar Teknologi</title>
        <link>https://seputartech.com/tags/kepercayaan/</link>
        <description>Recent content in Kepercayaan on Seputar Teknologi</description>
        <generator>Hugo -- gohugo.io</generator>
        <language>en-us</language>
        <lastBuildDate>Mon, 22 Jun 2026 00:00:00 +0000</lastBuildDate><atom:link href="https://seputartech.com/tags/kepercayaan/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml" /><item>
            <title>AI Bikin Muak: Dari &#39;Wow&#39; Jadi &#39;Duh&#39;, Publik Amerika Sudah Lelah</title>
            <link>https://seputartech.com/p/ai-bikin-muak-dari-wow-jadi-duh-publik-amerika-sudah-lelah/</link>
            <pubDate>Mon, 22 Jun 2026 00:00:00 +0000</pubDate>
            <guid>https://seputartech.com/p/ai-bikin-muak-dari-wow-jadi-duh-publik-amerika-sudah-lelah/</guid>
            <description>&lt;img src=&#34;https://images.pexels.com/photos/7689092/pexels-photo-7689092.jpeg?auto=compress&amp;cs=tinysrgb&amp;dpr=2&amp;h=650&amp;w=940&#34; alt=&#34;Featured image of post AI Bikin Muak: Dari &#39;Wow&#39; Jadi &#39;Duh&#39;, Publik Amerika Sudah Lelah&#34; /&gt;&lt;p&gt;Dulu, AI digadang-gadang sebagai penyelamat, kini malah jadi penyebab banyak orang ingin melempar monitor. Sebuah survei terbaru di Amerika Serikat mengungkap fakta pahit: publik sudah muak. Ya, muak. Bukan lagi sekadar skeptis, tapi jengah dengan segala janji manis yang terasa hambar di lidah.&lt;/p&gt;&#xA;&lt;p&gt;&lt;img alt=&#34;AI&#34; class=&#34;gallery-image&#34; data-flex-basis=&#34;359px&#34; data-flex-grow=&#34;149&#34; height=&#34;1255&#34; loading=&#34;lazy&#34; sizes=&#34;(max-width: 767px) calc(100vw - 30px), (max-width: 1023px) 700px, (max-width: 1279px) 950px, 1232px&#34; src=&#34;https://images.pexels.com/photos/8294758/pexels-photo-8294758.jpeg?auto=compress&amp;cs=tinysrgb&amp;dpr=2&amp;h=650&amp;w=940&#34; srcset=&#34;https://seputartech.com/pexels-photo-8294758_8419403427396187476_hu_2d19046a7a744046.jpg 800w, https://seputartech.com/pexels-photo-8294758_8419403427396187476_hu_80493e7a9c550c94.jpg 1600w, https://images.pexels.com/photos/8294758/pexels-photo-8294758.jpeg?auto=compress&amp;cs=tinysrgb&amp;dpr=2&amp;h=650&amp;w=940 1880w&#34; width=&#34;1880&#34;&gt;&lt;/p&gt;&#xA;&lt;p&gt;AI yang awalnya disambut bak pahlawan, kini nampaknya lebih sering jadi beban. Data dari Pew Research Center dan Ipsos, yang dirilis awal Juni, menyebutkan bahwa separuh warga AS merasa khawatir ketimbang gembira dengan AI. Angka itu naik dari 37% pada tahun 2022. Ini bukan cuma &amp;ldquo;sedikit khawatir&amp;rdquo;, ini peningkatan yang lumayan dramatis dalam waktu singkat. Ada apa gerangan? Apakah kita sudah terlalu banyak dicekoki jargon-jargon kosong?&lt;/p&gt;&#xA;&lt;img src=&#34;https://images.pexels.com/photos/35088937/pexels-photo-35088937.jpeg?auto=compress&amp;cs=tinysrgb&amp;h=650&amp;w=940&#34; alt=&#34;AI&#34; style=&#34;float:right; max-width:300px; width:42%; margin:0 0 1rem 1.5rem; border-radius:8px; clear:right;&#34;&gt;&#xA;&lt;p&gt;Ketidakpercayaan adalah pangkal masalahnya. Sebagian besar orang Amerika, sekitar 60% tepatnya, merasa AI tidak akan memberikan dampak positif pada mereka secara pribadi. Ini bukan cuma soal robot mengambil pekerjaan, walaupun itu memang kekhawatiran yang valid. Ini lebih fundamental: mereka merasa AI bukan untuk mereka. Ia tidak memberikan nilai, malah kadang menimbulkan masalah baru. Dari asisten virtual yang tidak responsif sampai chatbot layanan pelanggan yang bikin emosi, pengalaman buruk menumpuk.&lt;/p&gt;&#xA;&lt;p&gt;Ambil contoh &amp;ldquo;halusinasi&amp;rdquo; AI. Saat model bahasa besar itu mulai mengarang fakta, menyajikan informasi yang tidak akurat dengan penuh keyakinan, kepercayaan publik langsung runtuh seperti kartu domino. Bayangkan Anda bertanya sesuatu yang penting, dan jawabannya bukan hanya salah, tapi juga terdengar sangat meyakinkan. Ini bukan lagi &amp;ldquo;bantu-bantu&amp;rdquo;, ini &amp;ldquo;menyesatkan&amp;rdquo;.&lt;/p&gt;&#xA;&lt;blockquote class=&#34;alert alert-warning&#34;&gt;&#xA;        &lt;div class=&#34;alert-header&#34;&gt;&#xA;            &lt;span class=&#34;alert-icon&#34;&gt;⚠️&lt;/span&gt;&#xA;            &lt;span class=&#34;alert-title&#34;&gt;Warning&lt;/span&gt;&#xA;        &lt;/div&gt;&#xA;        &lt;div class=&#34;alert-body&#34;&gt;&#xA;            &lt;p&gt;Jangan mudah percaya pada semua informasi yang dihasilkan AI tanpa verifikasi. &amp;ldquo;Halusinasi&amp;rdquo; AI bisa menyesatkan dan berdampak serius.&lt;/p&gt;&#xA;        &lt;/div&gt;&#xA;    &lt;/blockquote&gt;&#xA;&lt;p&gt;Dan jangan lupakan soal privasi. Algoritma yang terus menerus menyedot data kita, melacak kebiasaan, dan &amp;ldquo;belajar&amp;rdquo; dari setiap interaksi, menciptakan rasa tidak nyaman yang mendalam. Publik mulai merasa mereka adalah produk, bukan pengguna. Rasa dikuntit, meski oleh entitas tanpa tubuh, tetap saja mengganggu.&lt;/p&gt;&#xA;&lt;h2 id=&#34;hype-tanpa-substansi-titik-jenuh-yang-pasti-datang&#34;&gt;Hype Tanpa Substansi: Titik Jenuh yang Pasti Datang&#xA;&lt;/h2&gt;&lt;img src=&#34;https://images.pexels.com/photos/8294691/pexels-photo-8294691.jpeg?auto=compress&amp;cs=tinysrgb&amp;h=650&amp;w=940&#34; alt=&#34;AI&#34; style=&#34;float:right; max-width:300px; width:42%; margin:0 0 1rem 1.5rem; border-radius:8px; clear:right;&#34;&gt;&#xA;&lt;p&gt;Setahun ke belakang, setiap perusahaan teknologi berlomba-lomba menambahkan &amp;ldquo;AI&amp;rdquo; di setiap produknya. Dari blender pintar sampai aplikasi catatan kaki, semua tiba-tiba &amp;ldquo;didukung AI&amp;rdquo;. Gelombang hype ini memang dahsyat, tapi seperti gelombang ombak, ia pasti akan surut. Dan ketika surut, yang tersisa hanyalah karang-karang tajam dari ekspektasi yang tidak terpenuhi.&lt;/p&gt;&#xA;&lt;p&gt;Pasar bereaksi terhadap hype, tapi pengguna bereaksi terhadap pengalaman. Dan pengalaman ini, bagi banyak orang, adalah kekecewaan. AI yang dijanjikan akan membuat hidup lebih mudah, seringnya malah menambah kerumitan. Ada jurang menganga antara demo marketing yang mulus dengan kenyataan penggunaan sehari-hari yang penuh bug dan ketidakpastian. Ini bukan salah AI-nya sepenuhnya, tapi salah pemasar dan pengembang yang terlalu buru-buru meluncurkan produk belum matang ke pasar.&lt;/p&gt;&#xA;&lt;img src=&#34;https://images.pexels.com/photos/8728285/pexels-photo-8728285.jpeg?auto=compress&amp;cs=tinysrgb&amp;h=650&amp;w=940&#34; alt=&#34;AI&#34; style=&#34;float:right; max-width:300px; width:42%; margin:0 0 1rem 1.5rem; border-radius:8px; clear:right;&#34;&gt;&#xA;&lt;p&gt;Lihat saja bagaimana aplikasi penulis AI kadang menghasilkan teks yang kaku, atau generator gambar yang masih sering keliru memahami prompt sederhana. Ini bukan &amp;ldquo;masa depan&amp;rdquo;, ini &amp;ldquo;masa percobaan&amp;rdquo; yang dipaksakan jadi produk jadi.&lt;/p&gt;&#xA;&lt;h2 id=&#34;opini-seputartech-cukup-sudah-janji-manis&#34;&gt;Opini Seputartech: Cukup Sudah Janji Manis&#xA;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Sebagai jurnalis yang sudah lama bergelut di dunia teknologi, saya melihat pola ini berulang. Setiap ada teknologi baru, pasti ada fase &amp;ldquo;bulan madu&amp;rdquo; di mana semua orang memuja. Tapi kemudian, realitas datang menghantam. Untuk AI, hantaman ini datang lebih cepat dan terasa lebih sakit karena ambisi yang terlalu muluk.&lt;/p&gt;&#xA;&lt;p&gt;Para pengembang dan perusahaan perlu berhenti sejenak, menarik napas, dan mendengarkan keluhan pengguna. Bukan cuma memaksakan AI di setiap celah kehidupan, tapi fokus pada masalah riil yang bisa dipecahkan AI secara &lt;em&gt;andal&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;etis&lt;/em&gt;. Jangan lagi cuma kejar fitur &amp;ldquo;wah&amp;rdquo; yang akhirnya cuma jadi gimmick. Kualitas, kepercayaan, dan privasi harus jadi prioritas, bukan kecepatan rilis atau volume fitur. Jika tidak, &amp;ldquo;muak&amp;rdquo; ini akan berubah jadi &amp;ldquo;penolakan&amp;rdquo;, dan AI bisa jadi akan melalui &amp;ldquo;musim dingin&amp;rdquo; lebih cepat dari yang kita duga.&lt;/p&gt;&#xA;&lt;p&gt;Publik tidak menolak AI karena benci teknologi. Mereka menolak AI yang buruk, AI yang tidak jujur, AI yang invasif, dan AI yang tidak memberikan nilai nyata. Ini pelajaran penting: teknologi harus melayani manusia, bukan sebaliknya. Jika AI tidak bisa memenuhi janji dasarnya untuk mempermudah hidup tanpa mengorbankan kepercayaan atau privasi, maka wajar saja jika kita semua mulai merasa jengah dan ingin kembali ke cara lama yang lebih sederhana, dan kadang, lebih manusiawi. Ini bukan akhir dari AI, tapi mungkin awal dari AI yang lebih jujur pada dirinya sendiri dan penggunanya.&lt;/p&gt;&#xA;&lt;div style=&#34;clear:both;&#34;&gt;&lt;/div&gt;&#xA;&lt;hr&gt;&#xA;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Sumber: &lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://inet.detik.com/cyberlife/d-8542141/survei-membuktikan-publik-makin-muak-dengan-ai&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;&#xA;    &gt;Detik Inet&lt;/a&gt;&lt;/em&gt; | Foto: &lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://www.pexels.com/@yaroslav-shuraev&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;&#xA;    &gt;Yaroslav Shuraev&lt;/a&gt;, &lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://www.pexels.com/@akoonie&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;&#xA;    &gt;Mukhtar Shuaib Mukhtar&lt;/a&gt;, &lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://www.pexels.com/@pavel-danilyuk&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;&#xA;    &gt;Pavel Danilyuk&lt;/a&gt;, &lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://www.pexels.com/@michelangelo-buonarroti&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;&#xA;    &gt;Michelangelo Buonarroti&lt;/a&gt; / Pexels&lt;/p&gt;&#xA;</description>
        </item></channel>
</rss>
