Perkembangan kecerdasan buatan (AI) memicu berbagai spekulasi mengenai masa depan manusia. Salah satu pandangan datang dari Elon Musk, yang memprediksi AI akan membawa era kelimpahan di mana barang dan jasa akan tersedia dalam jumlah masif, membuat konsep tabungan menjadi tidak relevan.
Musk menjelaskan bahwa di masa depan, tidak akan ada kelangkaan barang dan jasa. Semuanya akan tersedia melimpah karena AI yang mengelola produksi dan distribusi. Ini berarti, kebutuhan dasar manusia seperti makanan, tempat tinggal, dan transportasi akan terjamin tanpa perlu menimbun kekayaan atau menabung dalam bentuk uang.

“Di masa depan, tidak ada kelangkaan barang dan jasa, semuanya akan tersedia melimpah. Jadi, tabungan menjadi tidak relevan. Anda tidak akan membutuhkan uang,”— Elon Musk, CEO Tesla dan SpaceX
Pandangan ini tentu kontras dengan sistem ekonomi saat ini yang sangat mengandalkan nilai tukar dan akumulasi aset. Jika barang dan jasa tidak lagi langka, maka nilai uang sebagai alat tukar dan penyimpan nilai akan berkurang drastis. Sam Altman juga sempat mengungkapkan kekhawatirannya tentang dampak AI di masa depan.
Meski begitu, Musk sendiri tidak merinci bagaimana transisi menuju era kelimpahan ini akan berlangsung atau bagaimana sistem sosial dan politik akan beradaptasi. Dia hanya menekankan bahwa inti dari perubahan ini adalah kelimpahan yang dihasilkan oleh AI.
Implikasi dari pandangan ini cukup besar. Jika tabungan tidak relevan, maka investasi, perbankan, dan bahkan pasar modal bisa mengalami perubahan fundamental. Manusia mungkin akan lebih fokus pada aktivitas kreatif, eksplorasi, atau pengembangan diri, karena kebutuhan dasar sudah terpenuhi oleh sistem AI.
Baca juga: AI tak akan gantikan developer, justru perlebar skill gap
Komentar Musk ini menambah daftar perdebatan panjang mengenai dampak AI. Di satu sisi, ada optimisme besar tentang potensi AI untuk memecahkan masalah global dan meningkatkan kualitas hidup. Di sisi lain, kekhawatiran tentang hilangnya pekerjaan, isu etika, dan potensi penyalahgunaan AI juga terus mengemuka.
Foto: Kindel Media / Pexels