Kacamata pintar boleh dipakai, tapi jangan rekam orang tanpa izin

Kacamata pintar boleh dipakai, tapi jangan rekam orang tanpa izin
Ray-Ban Meta Wayfarer Large (Gen 1) Smart GlassesProduk RekomendasiRay-Ban Meta Wayfarer Large (Gen 1) Smart GlassesLihat Produk →

Insiden penggunaan kacamata pintar di ajang GIIAS 2026 kembali menyoroti isu etika dalam merekam orang di ruang publik. Perangkat seperti Ray-Ban Meta Wayfarer Large (Gen 1) Smart Glasses memang menawarkan kemudahan, namun batas privasi seringkali terabaikan.

Perdebatan muncul ketika seseorang diduga merekam tanpa izin menggunakan kacamata pintar tersebut. Hal ini memicu pertanyaan tentang sejauh mana penggunaan teknologi ini bisa diterima, terutama di acara publik yang ramai. Kreator konten memiliki tanggung jawab besar untuk menghormati privasi orang lain, dan itu termasuk meminta izin sebelum merekam.

Etika Merekam di Ruang Publik

Merekam di ruang publik memang tidak selalu ilegal, namun etika tetap menjadi panduan utama. Perlu dibedakan antara merekam suasana umum dengan sengaja merekam individu secara detail. Ketika fokus rekaman adalah seseorang, terutama tanpa sepengetahuan mereka, masalah privasi muncul.

Penting bagi siapa pun yang menggunakan perangkat perekam, termasuk kacamata pintar, untuk memahami bahwa hak privasi individu harus dihormati. Kreator konten harus aktif berkomunikasi dengan subjek yang ingin direkam. Menjelaskan tujuan rekaman dan meminta persetujuan adalah langkah fundamental untuk membangun kepercayaan dan menghindari pelanggaran etika.

Ilustrasi seseorang yang memakai kacamata pintar di tengah keramaian
Foto: Suki Lee / Pexels

Kegiatan pameran atau acara publik seringkali menjadi tempat di mana banyak orang ingin mengabadikan momen. Namun, kemudahan teknologi tidak boleh mengesampingkan norma sosial dan hukum yang berlaku. Mengabadikan momen harus tetap mempertimbangkan kenyamanan dan persetujuan orang lain yang mungkin terekam.

Meskipun tidak ada aturan baku yang melarang merekam di ruang publik secara mutlak, merekam seseorang tanpa izin, apalagi jika rekaman tersebut kemudian disebarluaskan, dapat menimbulkan konsekuensi hukum dan sosial. Hal ini terutama berlaku jika rekaman tersebut mengandung unsur yang merugikan atau tidak senonoh.

Pentingnya Izin dari Subjek

Kreator konten memiliki peran penting dalam membentuk budaya digital yang bertanggung jawab. Meminta izin bukan hanya sekadar formalitas, melainkan bentuk penghargaan terhadap individu yang menjadi subjek rekaman. Dengan meminta izin, kreator menunjukkan rasa hormat dan profesionalisme.

Jika subjek menolak untuk direkam, keputusan tersebut harus dihormati. Tidak ada alasan untuk melanjutkan perekaman jika ada penolakan. Ini adalah prinsip dasar etika yang harus dipegang teguh. Kasus-kasus seperti di GIIAS 2026 menjadi pengingat bahwa teknologi harus digunakan dengan bijak dan penuh tanggung jawab.

Penggunaan kacamata pintar atau perangkat perekam lainnya akan terus berkembang. Oleh karena itu, edukasi mengenai etika digital dan privasi menjadi semakin krusial. Setiap individu, baik pengguna maupun yang terekam, perlu memahami hak dan kewajiban masing-masing untuk menciptakan lingkungan digital yang aman dan nyaman.

Seputar Teknologi

Redaksi independen yang merangkum & mengurasi berita teknologi dari berbagai sumber terpercaya untuk pembaca Indonesia.